Nurliah : Kepemimpinan Kolaboratif dan Emansipatif, Akselerasi Pemulihan Pasca Pandemi

Program Studi Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UPN “Veteran” Jawa timur menyelenggarakan SINAGARA IV Konferensi Nasional Administrasi Negara “Kepemimpinan, Tantangan, Peluang dan Implikasi Publicness Pasca Pandemi.
Dengan tema seminar : Kepemimpinan Perempuan Dalam Publicness. Diselenggarakan di Hotel Swiss – Bellin Airport Surabaya dan via Zoom Meeting , Rabu 31 Agustus 2022.

Salah satu Narasumber pada kegiatan ini adalah Direktur Politeknik STIA LAN Jakarta Prof. Dr. Nurliah Nurdin, MA.

Nurliah menyampaikan paparan Kepemimpinan Kolaboratif dan Emansipatif: Akselerasi Pemulihan Pasca Pandemi.

Pemimpin sebagai pelayan, artinya pemimpin memfasilitasi proses kolaboratif dengan membangun dan melindungi integritas proses kolaboratif.
Pemimpin sebagai mediator, artinya pemimpin menfasilitasi, memediasi dan membina hubungan dengan pemangku kepentingan.
Pemimpin sebagai katalis, artinya pemimpin adalah seorang yang membantu pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang untuk menciptakan nilai. Dalam hal ini, pemimpin menjadi katalisator untuk kolaborasi yang efektif dan produktif.

Proses kolaborasi yang bisa memakan waktu lama dan sering bertentangan dengan sturktur organisasi tradisional.
Ketidaksepakan tujuan diantara pemimpin.
Buruknya komunikasi internal organisasi karena dibatasi oleh heirarki organisasi juga bisa menjadi hambatan.
Dari sisi individu, hambatan yang terjadi terkait keyakinan, nilai dan perilaku misalnya adanya arogansi, ketakutan dan kekuasaan.

Nurliah mengatakan ciri manager yang sukses adalah mereka yang memiliki karakteristik androginus, yaitu mereka yang memiliki kepercayaan diri besar dan sanggup menghargai orang lain.
Hal ini merupakan perpaduan antara sifat kejantanan dan kewanitaan yang baik.
Manajer yang sukses adalah mereka yang memiliki sifat-sifat sabar, lembut tetapi tegas.
Sifat luwes, manusiawi berhubungan dengan stereotype perempuan sedangkan sifat tegas, rasional berhubungan dengan stereotype laki-laki.
Sedangkan perempuan harus dapat mengatasi halangan eksternal dan mengelola halangan internal dalam dirinya sendiri agar ia dapat menjadi pemimpin yang berhasil.

Nurliah juga menyinggung
Strategi Pelaksanaan Bangkom “New Normal” di Lembaga Administrasi Negara (LAN RI)

Pengembangan kompetensi di era New Normal dirancang untuk mengedepankan pendekatan yang fleksibel, efisien, adaptif, dan efektif dalam memenuhi kebutuhan kompetensi ASN secara individu maupun kebutuhan organisasi.

Materi terkait SIGAP COvid 19 dilakukan sepenuhnya secara online. Demikian pula halnya materi materi yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dapat dilakukan secara fulltime online

Pengembangan kompetensi di era New Normal dirancang untuk mengedepankan pendekatan yang fleksibel, efisien, adaptif, dan efektif dalam memenuhi kebutuhan kompetensi ASN secara individu maupun kebutuhan organisasi.

Penyelenggaraan pelatihan bagi ASN sejak sebelum pandemi telah dilakukan secara blended learning yaitu mengkombinasikan antara pembelajaran secara online dan tatap muka

Masa pandemic mengajarkan kita untuk bekerja dan belajar secara gesit (agile), dimana saja dan kapan saja.

Share this: