
Jakarta, 26 Januari 2026 – Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah yang diselenggarakan oleh Politeknik STIA LAN Jakarta pada 26 Januari 2026 menjadi momentum reflektif untuk menegaskan kembali relevansi nilai-nilai spiritual Islam dalam menghadapi tantangan kehidupan Muslim kontemporer. Dengan mengangkat tema “Refleksi Makna Isra Mi’raj dalam Perjuangan Muslim Kontemporer: Lessons Learned dari Kehidupan Muslim di New York (Perspektif Ekonomi, Politik, Sosial, dan Budaya)”, kegiatan ini tidak hanya menempatkan Isra Mi’raj sebagai peristiwa sejarah dan spiritual, tetapi juga sebagai sumber inspirasi transformasi sosial di tengah dinamika global
Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh sivitas akademika Politeknik STIA LAN Jakarta, mulai dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga undangan dari masyarakat umum Hadir sebagai penceramah utama Ust. H.M. Shamsi Ali, Lc., M.A., Ph.D., Imam Besar Islamic Center of New York, serta Dr. Tjahjo Suprajogo, M.Si., Kaprodi Doktor Ilmu Pemerintahan IPDN. Kehadiran para tokoh tersebut memperkaya diskursus keislaman dengan perspektif global, akademik, dan praktis
Direktur Politeknik STIA LAN Jakarta, Prof. Dr. Nurliah Nurdin, MA., dalam sambutannya menegaskan bahwa peringatan Isra Mi’raj sejalan dengan misi institusi sebagai pusat pengembangan ilmu pemerintahan, administrasi publik, dan tata kelola (governance) yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Isra Mi’raj dipandang sebagai fondasi spiritual dalam membentuk pemimpin publik yang berintegritas, beretika, dan mampu merumuskan kebijakan yang berkeadilan. Nilai-nilai tersebut relevan dalam konteks kebijakan desentralisasi, pengembangan smart city, serta pengelolaan sumber daya manusia sektor publik
Lebih lanjut, Prof. Nurliah menguraikan refleksi kehidupan Muslim di New York sebagai contoh konkret perjuangan Muslim minoritas di Barat. Dari perspektif ekonomi, komunitas Muslim di New York berhasil membangun ekosistem ekonomi halal yang mandiri dan bernilai besar, seperti jaringan supermarket halal dan pengembangan fintech syariah. Pada ranah politik, komunitas Muslim aktif melakukan advokasi melalui lembaga seperti Council on American-Islamic Relations (CAIR) untuk memperjuangkan keadilan dan perlindungan hak sipil tanpa harus mengorbankan prinsip syariah. Secara sosial, masjid dan pusat Islam berperan sebagai pusat filantropi dan pelayanan kemanusiaan lintas agama, sementara dalam bidang budaya, umat Islam mampu beradaptasi secara kreatif melalui seni, festival, dan dakwah visual yang memperkuat identitas Islam di ruang publik Barat
Dalam ceramahnya, Ust. H.M. Shamsi Ali menekankan bahwa Isra dan Mi’raj merupakan peristiwa iman yang bersifat transenden dan menjadi ujian keimanan umat Islam. Isra dimaknai sebagai perjalanan horizontal Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, sedangkan Mi’raj merupakan perjalanan vertikal menuju Sidratul Muntaha. Peristiwa ini menegaskan kekuasaan dan kesempurnaan Allah SWT serta menjadi penguat spiritual (spirit boost) bagi Rasulullah SAW setelah menghadapi masa-masa paling berat dalam perjuangan dakwahnya
Ust. Shamsi Ali juga mengaitkan Isra Mi’raj dengan realitas umat Islam global yang saat ini menghadapi berbagai penderitaan dan ketidakadilan, seperti yang dialami Muslim Uighur, Rohingya, Muslim di India dan Kashmir, serta penderitaan berkepanjangan rakyat Palestina. Namun demikian, peristiwa Isra Mi’raj mengajarkan optimisme dan keyakinan bahwa di balik kesulitan terdapat janji kemenangan dari Allah SWT. Pengalaman komunitas Muslim di New York pasca peristiwa 9/11 menjadi bukti nyata bahwa tekanan dan diskriminasi dapat menjadi awal kebangkitan, sebagaimana ditandai dengan terpilihnya Zohran Mamdani sebagai walikota Muslim pertama di kota tersebut
Dari sisi akademik, Ust. Shamsi Ali menjelaskan bahwa perbedaan riwayat hadits terkait Isra Mi’raj merupakan hal yang wajar dan telah direkonsiliasi oleh para ulama melalui pendekatan keilmuan. Perbedaan narasi tidak mengurangi kesahihan peristiwa tersebut, karena landasan utamanya telah ditegaskan dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, upaya rasionalisasi dan kajian ilmiah terhadap Isra Mi’raj seharusnya bermuara pada penguatan iman, bukan pada penyangkalan terhadap kekuasaan Allah SWT
Sementara itu, Dr. Tjahjo Suprajogo dalam ceramahnya menyoroti Isra Mi’raj sebagai pelajaran tentang keteguhan iman, pengorbanan, dan janji kemudahan setelah kesulitan. Ia mengaitkan pesan tersebut dengan Surah An-Nur ayat 55 yang menegaskan janji Allah kepada orang-orang beriman dan beramal saleh untuk memperoleh kekuasaan, keteguhan agama, dan rasa aman. Tiga syarat utama untuk meraih janji tersebut adalah iman dan amal saleh, pengesaan Allah dalam ibadah, serta menjauhi segala bentuk kemusyrikan. Janji ini bersifat universal dan berlaku sepanjang zaman bagi umat Muhammad SAW
Diskusi yang berlangsung setelah ceramah mencerminkan antusiasme peserta dalam membahas isu-isu aktual, seperti keadilan dalam perjanjian perdamaian internasional, posisi politik tokoh Muslim di forum global, serta cara menyampaikan kritik politik secara etis tanpa merusak persatuan umat. Hal ini menunjukkan bahwa peringatan Isra Mi’raj tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi ruang dialektika intelektual dan moral bagi sivitas akademika
Secara keseluruhan, peringatan Isra Mi’raj di Politeknik STIA LAN Jakarta menegaskan bahwa peristiwa spiritual Nabi Muhammad SAW mengandung pesan transformasi yang relevan sepanjang masa. Nilai tauhid, disiplin ibadah, keteguhan iman, dan kepedulian sosial yang terkandung dalam Isra Mi’raj menjadi bekal strategis bagi umat Islam dalam menghadapi tantangan globalisasi, modernisasi, dan pluralitas budaya.
Melalui refleksi atas kehidupan Muslim di New York, umat Islam Indonesia diharapkan mampu mengambil pelajaran untuk memperkuat kualitas spiritual sekaligus meningkatkan kontribusi nyata dalam bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya, demi terwujudnya masyarakat Muslim yang berakhlak, moderat, dan berdaya saing global.




