
Singapura, 13 Januari 2026 — Politeknik STIA LAN Jakarta melaksanakan kunjungan internasional (international study visit) dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (community service) ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya penguatan wawasan global, pembelajaran tata kelola pemerintahan, serta praktik pelayanan publik dan inovasi.
Rombongan Politeknik STIA LAN Jakarta dipimpin oleh Dr. Nana Yuliana, dosen Politeknik STIA LAN Jakarta sekaligus mantan diplomat Indonesia (eks Duta Besar RI untuk Kuba), bersama Direktur Politeknik STIA LAN Jakarta, Prof. Dr. Nurliah Nurdin, M.A. Kegiatan ini turut diikuti oleh tujuh dosen dan tenaga kependidikan, serta 22 mahasiswa Politeknik STIA LAN Jakarta.
Kehadiran rombongan disambut langsung oleh jajaran KBRI Singapura yang dipimpin oleh Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI Singapura, Bapak Thomas Ardian Siregar. Turut hadir dalam pertemuan tersebut:
- Bianca Purita Constansa Simatupang, Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya sekaligus Plt. Atase Pendidikan dan Kebudayaan
- Maradona Abraham Runtukahu, Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler
- Rima Diniah, Atase Ketenagakerjaan
- Wida Irvany, Counsellor Perlindungan WNI (PWNI)
- Maryani, Koordinator Fungsi Politik
Dalam sesi diskusi dan pemaparan, rombongan mendapatkan pembelajaran komprehensif mengenai model layanan KBRI Singapura dalam melindungi dan memenuhi hak-hak WNI, khususnya bagi pekerja migran Indonesia. KBRI Singapura menjelaskan berbagai bentuk layanan perlindungan yang dijalankan secara aktif dan terstruktur, antara lain penyediaan shelter sementara bagi WNI bermasalah, fasilitasi pemulangan ke Tanah Air, pendampingan hukum, layanan kunjungan dan pendampingan ke rumah tahanan (rutan), serta sosialisasi peraturan dan hukum yang berlaku di Singapura.
Pembelajaran penting lainnya adalah kuatnya asas perlindungan tenaga kerja di Singapura, yang diterapkan secara sistematis dan preventif. Setiap pemberi kerja diwajibkan mengikuti sosialisasi terlebih dahulu sebelum merekrut tenaga kerja, guna memastikan pemahaman yang utuh mengenai hak dan kewajiban tenaga kerja, termasuk standar kerja, perlindungan hukum, dan sanksi atas pelanggaran. Sistem ini dinilai efektif dalam meminimalkan konflik ketenagakerjaan serta melindungi pekerja sejak sebelum hubungan kerja dimulai.
Selain aspek perlindungan WNI, rombongan juga mempelajari praktik tata kelola pemerintahan Singapura yang menekankan efisiensi, integritas, dan akuntabilitas. Penggunaan sistem digital terintegrasi seperti Sing Pass menjadi contoh bagaimana keamanan data dan layanan publik dijamin secara optimal. Di Singapura, pejabat publik mengelola kebutuhan pribadi secara mandiri, dengan sistem gaji bruto (gross salary) tanpa berbagai fasilitas tambahan dari negara.
Budaya leading by example menjadi pembelajaran kunci dalam kunjungan ini. Para pejabat publik, termasuk menteri, terbiasa menggunakan transportasi umum, mengemudikan kendaraan sendiri, dan menggunakan pesawat kelas ekonomi. Tidak tersedia fasilitas rumah dinas atau privilese berlebihan bagi pejabat, sehingga mentalitas pelayanan dan kesederhanaan benar-benar terinternalisasi dalam praktik kenegaraan.
Tingginya kepatuhan hukum dan kepercayaan publik juga tercermin dari perilaku masyarakat Singapura, dimana keamanan dan ketertiban sangat terjamin. Hal ini menunjukkan bahwa efisiensi dan integritas tidak hanya menjadi kebijakan negara, tetapi juga telah menjadi budaya masyarakat.
Rombongan Politeknik STIA LAN Jakarta juga berkesempatan mempelajari langsung proses layanan di KBRI Singapura, mulai dari pelayanan konsuler hingga perlindungan WNI. Pengalaman ini memberikan gambaran nyata mengenai implementasi pelayanan publik yang profesional, responsif, dan berorientasi pada pemenuhan hak warga negara.
Melalui kunjungan ini, Politeknik STIA LAN Jakarta memperoleh pembelajaran penting bahwa efisiensi bukan sekadar pernyataan kebijakan, melainkan prinsip kenegarawanan yang diwujudkan secara konsisten oleh para pejabat dan institusi.






